Senin, 09 Mei 2011

Keberhasilan Menjadi Orang Tua yang Baik dimulai dari Keberhasilan orang tua kita memberikan pengertian dan kasih sayang kepada kita .

Once upon a time ... (JUST EXAMPLE)


Mamah : "kamu ituh nggak boleh ikut kegiatan ini itu , osis , dll !! itu nggak penting dan nggak akan berguna di massa depan kamu !! cuma buang-buang duit ajah kecuali kamu di bayar baru mama bolehin !!!"


Si Anak : "nggak bisa seperti itu mamah *crying* ini udah hobby aku dari aku mulai sekolah , terus kata guru aku kalo kita ngelakuin sesuatu itu harus ikhlas tanpa dibayar"


Mamah : "nggak peduli !! pokoknya kamu nggak boleh punya kegiatan kecuali sekolah !!"


Si Anak : "tapi kan karena kegiatan itu aku jadi semangat belajar mah , kenapa mama nggak bisa ngertiin aku sihh ?!!"


Mamah : "zamannya mama sekolah dulu tidak ada osis yang modelnya seperti kamu dan teman-teman kamu , OSIS hanya untul orang yang berduit !"


Si Anak : "yahh jangan disamain maa zaman dulu sama zaman sekarang"


Mamah : "tau apa sihh kamu sama mama ? banyakan mama tau daripada kamu . Mama niih orang tua lebih banyak tau daripada kamu"


Si Anak : "Kalo seperti itu aku nggak mau jadi orang tua seperti mama , yang nggak ada pengertian sama sekali sama anak !!"



***

Pertengkaran yang terjadi pada Ibu dan Anak diatas sesungguhnya tidak bisa bila kita terlalu menyalahkan anak dalam situasi tersebut , sebagai orang Tua kita patut mengerti keadaan, minat, hobby, dan sesuatu yang bisa memotivasi anak supaya dapat berkembang seperti yang ia inginkan . Mungkin terkadang kita sebagai orang Tua merasakan kegiatan yang dilakukan oleh anak adalah sesuatu yang salah , tapi apakah itu benar-benar murni kesalahan dari si Anak , ataukah hanya rasa kekhawatiran yang terlalu berlebihan terhadap perkembangan yang terjadi terhadap anak kita ? Kini saya akan membahas beberapa sikap kita sebagai orang tua yang kita anggap baik tapi Justru akan membahayakan dikedepannya kelak .
1. Pengekangan terhadap kegiatan yang dijalani oleh si Anak karena Orang Tua menganggap hal itu sia-sia
Ketika seorang Anak memilih suatu kegiatan yang ia geluti maka sebelumnya si Anak mempunyai Alasan bahwa ia dapat melalui kegiatan itu dengan baik dan dengan keyakinan yang sangat besar bahwa ia akan mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan tersebut , dari keyakinan itulah yang membuat si Anak akan lebih cepat menemukan Jati diri sesungguhnya yang ada dalam dirinya . Sebagai orang Tua kita patut mewaspadai dan mengontroul seluruh kegiatan anak supaya tidak terjerumus kedalam hal yang salah , namun tak jarang justru kekhawatiran kita menjadi berlebihan dan malah menjadi penghalang untuk anak kita mendapatkan motivasinya untuk belajar dan semakin berkembang pola pikirnya . Ada beberapa Hal yang harus di perbaiki bila hal tersebut terjadi dan supaya kekhawatiran kita tak menjadi jadi :)
  1. Mencoba mengerti kemauan Si Anak terhadap bakat yang ia minati
  2. Selektif dan Berpikir menggunakan akal sehat tentang baik atau buruknya kegiatan yang si Anak jalani
  3. Memberi pengertian kepada Anak tentang Resiko dari kegiatan yang dijalaninya
  4. Memantau perkembangannya dalam Organisasi yang diikutinya
  5. Memotivasi supaya kegemarannya itu semakin meningkat dan bisa menjadi bakat dalam dirinya
  6. Bila hal itu Negative berilah pengertian perlahan kepada si Anak agar menjauh dari kegiatan tersebut
  7. Jangan sekali-kali memberi pengertian secara kasar dan melontarkan kata-kata yang menunjukan keegoisan kita sebagai orang tua dan melontarkan kata-kata yang membuat ia merasa seperti dijatuhkan atau disudutkan
  8. Sebagai orang tua sangat wajib untuk memberikan motivasi anak dalam setiap kegiatan
  9. Kita tidak berhak memaksakan kehendak kita terhadap si Anak karena itu sama saja kita meng-exploitasi anak terhadap kemauan kita .
2. STOP EXPLOITASI ANAK
Exploitasi merupakan satu tindak bullying yang sangat berbahaya untuk masa depan anak .
Bukankah kita sebagai orang Tua tidak menginginkan anak menjadi seperti kita ? Justru kita berharap Agar si Anak menjadi lebih baik dari kita bukan ? . Tapi terkadang malah kita terlalu memberi peraturan kepada si Anak terlalu berlebihan hingga tanpa disadari peraturan kita itu telah berubah nama menjadi EXPLOITASI .
Parrents ! kita harus menyadari apa saja ciri dari sikap exploitasi yang terselubung dalam kata Peraturan itu ?
  1. Exploitasi Materi , hal ini biasa di alami oleh Keluarga yang tidak berkecukupan . Dimana si Anak dimanfaatkan Kelebihannya untuk dijadikan lapangan pekerjann . Memang sangat membantu keadaan Ekonomi keluarga , namun kalau kita kebablasan menggunakannya maka kita akan lupa bahwa yang berkerja adalah anak kita sendiri dan secara tidak langsung kita telah mengurangi waktu bermainnya, waktu ia menikmati masa remajanya . Mengajarkan anak untuk membantu orang tua memang bukan sutu hal yang salah , tapi salah bila kita memanfaatkan hal itu terlalu berlebihan .
  2. Exploitasi Nurani , memaksakan si Anak untuk selalu mengikuti peraturan Orang Tua tanpa mengerti apakah Adil peraturan itu atau Tidak untuk Si Anak . Inilah Exploitasi yang saya maksud terselubung , karena skandal yang kita anggap peraturan menjadi Exploitasi karena suatu hal yang ada di dalam diri kita sebagai Orang Tua terlalu berlebihan . Pada kendala tersebut sangatlah berbahaya bila terjadi berlarut-larut dikarenakan kondisi mental anak akan terganggu mulai sejak dini hingga nanti ketika ia dewasa kelak dan menjadi Orang Tua , bayangkan apa yang akan terjadi terhadap anak cucu kita hanya karena kekhawatiran kita yang berlebihan dan alih-alih peraturan demi Buah hati kita . Apakah itu bisa dibenarkan ?
Lalu apakah yang harus kita lakukan ?
  • Untuk Ibu bila kita menemukan kendala Ekonomi dan kita melihat ada yang bisa kita manfaatkan dari anak untuk membantu kita , maka bagilah waktu untuk si Anak antara Bermain dan Bekerja
  • Adakan pembicaraan Heart to Heart supaya anak pun dapat mengerti keadaan ekomomi keluarganya jangan sampai iapun merasa di perbudak
  • Adakan diskusi keluarga agar tidak salah mengambil langkah dalam menghadapi Masalah, jangan sampai anak yang dikorbankan
  • Bedakan antara Peraturan dan kekhawatiran yang berlebihan .
  • Selektive terhadap peraturan yang akan diberikan kepada Anak
  • Diskusikan dengan si Anak apabila membuat peraturan supaya dapat menjadi peraturan yang win-win solution


3. Pelampiasan Emosi Sesaat & Berkelanjutan terhadap si Anak
Pertengkaran Orang Tua, Gejala Ekonomi, Skandal dalam rumah tangga merupakan hal-hal yang pasti menguras emosi Kita sebagai orang Tua . Tak memandang lagi siapa pemicu masalah semua akan menjadi korban emosi kita . Hati-hati karena itu bisa saja terlampiaskan terhadap si Anak . Kadang saat kita lose controul si anak yang tidak tau menau jadi harus menanggung cacian dari Ayah atau Ibu ketika keduanya ada masalah. Hal ini dapat menyebabkan gangguan psikis terhadap anak . Anak akan menjadi pribadi yang kasar, pembangkang, Tidak peduli dan Egois . Sikap tersebut tidak hanya terlihat oleh orang tua namun lingkungan sekolahnya dan lingkungan bermainnya . Lalu apa langakah yang harus diambil pada saat ini ?
  1. Jangan pernah memperlihatkan Pertengkaran keluarga di depan si Anak
  2. Lampiaskan emosi kita pada hal-hal yang positive seperti menyalurkan terhadap hobby kita (memancing, dll)
  3. Berilah pengertian terhadap si Anak supaya tidak memancing emosi dan membuat kita melampiakan kekesalan kita terhadapnya
  4. Perbanyaklah Istighfar
==========================================================================
Sekiranya mungkin itu saja yang dapa saya bagi untuk anda para orang tua yang sangat di sayangi oleh putra putri anda , saya tarik kesimpulannya adalah :
  1. Sayangilah anak kita jangan membuat ia menjadikan musuh atau monster yang menyeramkan baginya
  2. Intropeksi terhadap diri kita apakah kita sudah benar selama ini ?
  3. Apakah Kita sudah emnjalin komunikasi yang baik terhadap anak kita ?
  4. Apakah kita sudah bersahabat baik dengan anak kita ?
Saya yakin anda pasti dapat menyimpulkannya :)
Dampak yang akan terjadi bila kita menghiraukan gejala diatas hanya sedikit namun FATAL .
yaitu anak kita akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak menentu , pribadi yang kasar, selalu merasa dikucilkan dan ia akan menjadi Orang Tua yang gagal ketika membesarkan anaknya karena kita telah memberikan contoh yang buruk kepadanya semasa ia menjadi anak .


Apakah kita telah menjadi Orang Tua yang baik dimata anak kita ? 
 



Tidak ada komentar: