Sekolah Tionghoa di Batavia
memang kebanyakan yang datang ke Batavia, termasuk ke daerah-daerah lain di Nusantara, hanya untuk mencari uang. Meskipun begitu, beberapa orang Tionghoa kaya mampu menggaji guru untuk mengajari anak laki-laki mereka.
Sekolah Tionghoa tradisional juga dikenal sebagai sekolah Hokkian karena bahasa pengantar pengajarannya adalah bahasa Hokkian. Di sekolah ini tekanan pengajaran adalah hafalan, bukan pemahaman. Karena itu, meskipun sudah belajar selama beberapa tahun, para siswa tetap tidak bisa berbicara atau menulis dalam bahasa Tionghoa sederhana. Akibatnya, sekolah tersebut ditinggalkan. Mereka pindah ke lembaga-lembaga pendidikan berbahasa Belanda atau bahkan melayu.
Di Batavia sekolah Belanda mulai didirikan pada 1816, namun anak-anak Tionghoa baru boleh masuk pada paruh kedua abad ke-19. Jumlah siswa yang terdaftar 80-90 per tahun. Itu pun kebanyakan anak laki-laki opsir Tionghoa dan pengusaha Kaya Tionghoa.
Pemerintah kolonial pernah melarang anak-anak pribumi dan Tionghoa masuk sekolah Belanda. Namun larangan tersebut di cabut pada1864. Meskipun begitu, anak-anak pribumi dan Tionghoa hanya diterima masuk bila masih ada tmpat kosong. Sikap seperti inilah yang kemudian membuat Phoa Keng Hek (1857-1937) mendirikan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada 1901 untuk memaksa penguasa Belanda membuka sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak peranakan.
(Sumber : http://galerypelaut.wordpress.com/2011/08/20/sekolah-tionghoa-di-batavia/ )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar